October 31, 2008

Di Depan Tugu Jogja

July 22, 2008

Hukuman mati itu bukan hukuman

19 Juli 2008, regu tembak mengeksekusi sejumlah napi. Usep, Sumiarsih dan Sugeng. Sementara masih menunggu dibelakangnya deretan teroris bom bali dan terpidana narkoba.
Hakekat sebuah hukuman adalah sebuah bentuk pembinaan dari perilaku yang menyimpang agar kembali ke jalan yang benar atau yang sesuai hukum. Artinya hukuman mati bukanlah sebuah hukuman tapi adalah sebuah pembunuhan yang dilegalkan. Karena terhukum tidak lagi memiliki kesempatan untuk 'kembali ke jalan yang benar'.
Pelaksanaan hukuman mati juga bisa dibaca sebagai kegagalan pemerintah (hukum) dalam membina warga yang melanggar hukum. Sehingga daripada repot-repot mengurusi lebih baik dibunuh saja, sehingga tidak menjadi ancaman di kemudian hari.
Ketika eksekusi mati terhadap sumiarsih, sugeng dan usep sukses dilaksanakan, kemenangan siapakah ini dan kekalahan siapakah ini? Betulkah ini kekalahan penjahat melawan kebaikan. Yang pasti, proses hukum telah dan sedang berjalan. Tidak ada yang bisa menghentikan hukum (katanya). Hanya ada satu celah...grasi presiden. Atas kematian orang berdosa (menurut hukumnya pengadilan dunia) ini, Susilo Bambang Yudhoyono yang paling bertanggung jawab. Karena sesungguhnya sebagai presiden, beliau sanggup untuk menghentikan pembunuhan yang sah ini.

July 11, 2008

Aktor dan Artis



Televisi dan layar lebar melahirkan banyak artis tapi belum tentu semua bisa disebut aktor. Aktor adalah seseorang yang bisa mengubah dirinya secara totalitas menjalani peran yang dimainkan. Didi Petet bukan sekedar artis, tapi dia adalah aktor.

July 5, 2008

Hemat Yang Memiskinkan

Entah salah siapa, Indonesia tidak kunjung makmur adil dan sejahtera seperti yang dicita-citakan dalam UUD 1945. Bisa jadi karena jumlah penduduk Indonesia yang terlalu banyak (200 juta lebih)yang artinya susah menyejahterakan orang banyak.Bisa juga karena penduduk Indonesia yang malas berfikir dan bekerja keras. Bisa pula karena para pemimpin yang terlalu serakah dan berusaha membuat dirinya sendiri kaya. Akhirnya kita harus menerima kemiskinan sebagai salah satu ciri khas bangsa Indonesia (meskipun ada segelintir golongan yang amat sangat kaya).

Di tengah suasana kemiskinan ini, tabiat berhemat selalu mewarnai setiap keputusan bertindak. Ngirit. Ketika melakukan perjalanan jauh, memilih yang ongkosnya paling minim. Ketika memilih baju, pilihan jatuh pada harga yang miring. Ketika memilih menu makanan / warung pilihannya jatuh pada yang paling murah.

Di tengah suasana kemiskinan ini pula, muncul kencenderungan untuk memanfaatkan semaksimal mungkin fasilitas di dekatnya untuk urusan pribadi. Hal ini berlaku di perusahaan-perusahaan swasta maupun kantor pemerintah. Misalnya menggunakan telepon kantor untuk keperluan pribadi,menggunakan kendaraan plat merah untuk acara keluarga. Atau juga memanfaatkan barang sisa / yang sudah tidak digunakan kantor untuk dibawa pulang. Kasus lain, bagi seseorang yang diberi fasilitas (inventaris) tertentu misalnya laptop, kamera, motor, mobil, tidak bisa memberi garis tegas dalam menggunakan alat tersebut antara kepentingan pribadi dan kepentingan pekerjaan. Barang inventaris tersebut lebih dimaknai sebagai privielege, sebagai hak istimewa atas posisi yang didudukinya.
Dan lagi-lagi, semangat yang mewarnai adalah semangat penghematan.

Di tengah suasana kemiskinan ini pula, muncul niat untuk memperbesar pendapatan yang diperoleh. Entah dengan tindakan yang amoral maupun yang moral. Dengan cara yang sah maupun yang tidak sah. Atau dengan cara mengesahkan yang tidak sah yaitu yang secara normatif tidak sah namun secara legal formal disahkan.

Di tengah suasana kemiskinan ini pula ada yang menarik untuk kita cermati yaitu perilaku sosial.
Orang yang bermental miskin akan lebih banyak diberi dari pada memberi. Dia akan selalu berada pada antrean nomor satu jika ada yang pemberian. Sekedar contoh BLT, sembako gratis, makanan gratis, dan (maaf) suguhan di ruang tamu. Dia lebih suka ditraktir daripada mentraktir. Yang pasti, dia akan berebut untuk memilih fasilitas umum, fasilitas perusahaan, fasilitas kantor, inventaris kantor maupun barang bekas sebagai solusi penghematan.
Orang yang bermental kaya akan lebih banyak memberi dari pada diberi. Dia lebih suka minggir dari antrean untuk mendapatkan sesuatu yang gratis dengan pertimbangan orang lain lebih membutuhkan. Dia akan akan cenderung untuk tidak aji mumpung memanfaatkan fasilitas yang ada untuk kepentingan diri sendiri.

Kemiskinan ini memang pahit, Saudara. Tapi jangan sampai kita bermental miskin.